Selasa, 28 Februari 2012

KONSEP KEPRIBADIAN Dalam Al-Qur’an Dan Hadis

-->
Kepribadian berasal dari kata pribadi yang berarti orang seorang alias se (satu) diri, dan kemudian pada kata se diri itu disisipi huruf n, sehingga menjadi sendiri.
Orang Inggris menyebut kepribadian dengan istilah personality, berasal dari kata person, yang juga berarti orang (manusia) seorang. Begitu juga orang Arab menyebut kepribadian dengan istilah syahshiyyah, dari kata syahshun, yang berarti orang soerang pula. Ketiga istilah dalam tiga bahasa itu belum menjawab pertanyaan apa itu kepribadian, karena masih bersifat umum dan kabur. Tapi dalam bahasa Indonesia ada istilah lain yang cukup menjawab, walau belum cukup gamblang, yaitu istilah jati diri, yang berarti keadaan diri (sendiri) yang sebenarnya (sejati).
Melalui istilah jati diri kita diajak menukik pada titik yang paling inti dari hakikat seorang manusia.
Di sana kita dapati dua kenyataan tentang seorang manusia. Pertama, dia adalah satu diri yang berbeda dari yang lain (unik). Kedua, dia adalah satu diri yang memiliki kesamaan atau kemiripan dengan seorang atau banyak orang (kelompok) lain. Kenyataan pertama terlihat sisi fisik setiap orang, yang bisa dipastikan tidak ada seorang pun yang sama persis dengan orang lain; lebih-lebih bila dilihat melalui DNA setiap orang yang memang masing-masing bersifat khas. Berdasar kenyataan itu, setiap manusia, orang per orang, memang unik.

Kamis, 29 Desember 2011

ILMU DAN KEBENARAN

Kebanyakan manusia sudah terbius oleh dalil yang mengatakan bahwa “kebenaran itu bersifat relatif”, yakni tergantung pada siapa yang mengatakan dan mempercayainya. Dengan kata lain, kebenaran itu menjadi tergantung pada kepercayaan, atau bahkan selera, sehingga nilainya menjadi subyektif (tergantung orang). Padahal, seharusnya kebenaran itu bersifat obyektif, apa adanya, sesuai dengan fakta yang telanjang (asli).
Seharusnya dalil itu difahami dengan cermat!
Relatif (Ing.: relative) adalah kata sifat. Kata bendanya adalah relasi (relation). Dalam bahasa aslinya, yang biasa kita sebut relatif itu adalah relative to, yang artinya sama dengan referring to (merujuk kepada; menghubungkan dengan).
Jadi, bila kita mengatakan bahwa “kebenaran itu relatif”, maksudnya adalah “kebenaran itu tergantung pada rujukannya atau sumbernya.” Bila sumbernya orang, maka orang itulah yang menjadi penentu. Bila sumbernya sebuah buku (yang sebenarnya juga ditulis orang), maka buku itulah yang menjadi penentu. Kita yang mendengar kata orang, atau membaca sebuah buku, boleh membenarkan (mempercayai), boleh juga tidak membenarkan (= menyalahkan). Kedua pilihan itu (membenarkan atau menyalahkan) adalah benar (= sah), karena kebenaran itu tergantung pada (subyektif/selera) kita.

IMAN DAN ILMU PENENTU AMAL

Iman dan Ilmu menentukan amal. Begitulah harusnya manusia dalam menjalankan poses kehidupannya. Dan, harap diingat bahwa yang disebut Iman dan Ilmu di sini adalah “Segala isi hati dan otak”; sedangkan amal adalah “segala tindakan yang digerakkan oleh Ilmu tersebut”.
Segala yang ada dalam otak=hati kita, selanjutnya  oleh mekanisme otak dibentuk menjadi “sistem pengetahuan” kita. Lebih lanjut, karena otak menjadi pengendali segala sistem dalam tubuh, maka ibarat komputer sistem pengetahuan kita itu selanjutnya menjadi “sistem operasi”, yang menentukan segala gerak-gerik kita, baik yang tersadari maupun yang bersifat refleks. Dengan kata lain pada hakikatnya kita ini adalah robot dari segala isi otak (= ‘ilmu dan Iman’).

WAWASAN SURAT AL-'ALAQ (Ayat 1-5)

Sejarah ialah peredaran hidup manusia diatas dua prinsip yang berlawanan, dan dilakukan oleh pelaku yang berbeda. Prinsip sajarah yang diajukan olah Allah dalam Al-Qur'an ini, meliputi nasib seluruh manusia, sedangkan sejarah menurut manusia, hanyalah berupa catatan peristiwa masa lalu yang dianggap benar-benar terjadi, dengan diperkuat oleh saksi sejarah, pada umumnya hanya menyangkut kekuasaan, perjuangan, penjajahan dan lain sebagainya, tanpa menilai dari prinsip sejarah itu sendiri.
Allah memulai penciptaan peradaban/kebudayaan manusia dengan menciptakan Adam dan Hawa serta keturunannya, sekaligus mengajarkan kepada Adam tentang dua nilai yang terkenal dengan tau dan tidak tahu, tau melalui belajar berarti menerima pantulan Nur atau Cahaya penerang sedangkan lawannya adalah tidak tahu atau bodoh, akibat tidak mau belajar sebagai pelambang dari kegelapan atau Dzulumat, yang

Selasa, 29 November 2011

HIDUP = PERJUANGAN



Saya sering mendengar orang mengatakan bahwa “Hidup adalah Perjuangan”.

Bagaimana pengertian dari semboyan ini….?

Anda sudah menyebut kutipan yang anda ajukan itu sebagai “semboyan”. Mari kita kaji dari segi itu dulu.

Maksud anda?

Kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan “semboyan”.

Benar juga. Saya setuju…!

Dalam bahasa Inggris, semboyan itu adalah slogan atau motto…

Kenapa harus dikaitkan dengan bahasa Inggris?

Supaya tampak universal, he he… Maklum, bahasa Inggris kan katanya bahasa dunia.


Minggu, 27 November 2011

AL-QUR’AN SATU GAGASAN REVOLUSIONER

Islam yang sangat ‘hidup’, yang tercermin melalui kemudahannya menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan di se-gala tempat pada segala zaman, serta kenyataan bahwa ia terus menyebar ke seluruh penjuru dunia,  hanya dapat dipahami melalui ajarannya yang mendunia (universal) dan membawa perubahan mendasar (revolusioner). Ajaran dasarnya tentang kesatuan umat manusia, yang bersumber dari keesaan Allah, tak pernah berhenti mengilhami para reformer pejuang revolusi sejati dengan gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang murni serta bermutu tinggi.[1]


Selasa, 22 November 2011

BERCOCOK TANAM ILMU

Ini obrolan soal kebudayaan dan atau peradaban, yang sumbernya adalah ilmu.

Istilah budaya dan culture (di-Indonesiakan menjadi kultur) mempunyai pengertian asal yang persis sama, dan berbasis perkebunan, yaitu pembiakan tumbuhan (bisa juga hewan).
Pengertian ini masih terpakai misalnya, dalam istilah budidaya, yang berarti penyelenggaraan perkebunan agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Istilah holtikultura juga digunakan untuk menyebut kiat atau ilmu bercocok-tanam.

Sedangkan civilization, agaknya lebih berbasis “kota”. Civil artinya penduduk atau warga negara yang bukan militer (angkatan bersenjata), tetapi bisa juga berarti sopan atau terpelajar.
Kata civilization agaknya mengacu pada pengertian yang kedua, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi peradaban.

Istilah peradaban jelas diambil dari bahasa Arab, aduba, yang artinya sopan, terpelajar.
Dalam sebuah Hadits digunakan kata ta’dib dalam arti pendidikan (addabani rabbi fa-ahsana ta’dibi).